Garda Depan Melawan Covid-19 Adalah Masyarakat

Jumat, 10 April 2020, 02:30 WIB
Oleh Redaksi Net24Jam
Ilustrasi

Jakarta, DelinewstvPakar Virologi menilai bahwa garda terdepan dalam perang melawan pandemi virus corona (Covid-19) bukanlah tenaga medis, dokter, apalagi pemerintah, melainkan masyarakat.

"Garda terdepan dalam perang melawan pandemi Covid-19 bukanlah dokter atau tenaga medis, apalagi pemerintah karena mereka merupakan garda terakhir. Namun, garda terdepan itu adalah masyarakat umum," ujar Abdul Rahman kandidat doktor dari Georg August University of Göttingen Jerman tersebut, dalam seminar daring bertajuk "Kebijakan Penanganan Covid-19: Belajar dari Jerman dan Amerika Serikat" di Jakarta, Kamis (9/4/2029) malam.

Ia mengatakan kalau garda terdepan sudah tumbang maka terdapat garda berikutnya, yakni garda kedua dan ketiga, dan garda paling akhir adalah dokter dan tenaga medis.

Namun, kata Abdul Rahman, jika dokter dan tenaga medis sebagai garda paling akhir sudah tumbang, maka siapa lagi elemen bangsa yang bisa diandalkan untuk menghadapi perang melawan Covid-19.

"Apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat umum, pertama patuhi anjuran dan himbauan pemerintah, kemudian menjaga kesehatan diri serta lingkungan, lalu mengonsumsi makanan bergizi yang berimbang untuk meningkatkan sistem imunitas," katanya sembari mengingatkan bahwa garda terdepan dalam perang melawan Covid-19  adalah masyarakat.

Selain itu, menurut dokter spesialis paru dan tim medis penanganan Covid-19, Dr. dr Erlina Burhan, Msc, SpP(K), untuk menekan penyebaran virus corona baru yang semakin meluas maka upaya yang diperlukan adalah memutus mata rantai. 

Dikatakan olehnya, dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19, yang menjadi garda terdepan adalah masyarakat bukan tenaga kesehatan.

"Jadi masyarakat yang berperan untuk memutus mata rantai, ini penting," ujar dr Erlina dalam konferensi pers online Memutus Rantai Penularan Covid-19 yang diadakan oleh BNPB, Senin (30/3/2020) lalu.

Dirinya mengatakan, ada dua cara penularan Covid-19 yakni secara langsung melalui droplet dan tidak langsung karena menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi virus.

Penularan secara langsung terjadi ketika orang yang terinfeksi virus corona baru batuk atau bersin. Percikan yang keluar dapat menularkan virus dalam jarak 1 meter. Untuk mencegah penyebaran virus secara langsung, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, untuk orang yang sakit atau merasa tidak sehat wajib memakai masker. 

Kedua, menjaga jarak kurang lebih 1 meter dengan orang lain. Lalu yang tak kalah penting adalah tetap di rumah saja.

Akan tetapi, apabila memang terpaksa untuk keluar rumah, maka orang yang sehat sekalipun disarankan untuk memakai masker dan jangan lupa untuk menjaga jarak ketika berada di kerumunan.

Sedangkan untuk penularan virus secara tidak langsung yang menempel di permukaan benda, dr Erlina menjelaskan upaya paling efektif untuk pencegahan adalah rutin mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah. 

"Kita sering tidak sadar menyentuh benda-benda yang terkontaminasi virus makanya harus cuci tangan dan jangan menyentuh wajah, mata, hidung, mulut tanpa mencuci tangan. Dua kebiasaan ini harus dan wajib dilakukan demi pencegahan," ujar dr Erlina.

Lebih lanjut dirinya menerangkan, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir efektif mencegah penularan karena membunuh virus. Virus dilapisi oleh lemak yang apabila terkena sabun akan hancur dan virus mati.

"Jadi cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir ini sangat sangat penting. Tapi ada beberapa hal yang perlu diketahui yaitu cuci tangan harus bersih, benar caranya, dan durasinya sekitar 20 detik. Cuci tangan harus semua permukaan tangan, mulai dari permukaan dalam, sela-sela jari, pinggir-pinggir jari hingga ke ujung-ujung kuku," kata dr Erlina.

"Kita harus bersatu karena virus corona baru ini adalah musuh bersama. Maka melawannya juga harus bersama-sama. Pasti kita bisa," pungkasnya.

(Rd)

TerPopuler