Sebelum Covid-19, China Sudah Dibantai Virus Lain Hingga Tewaskan 60 Ribu Jiwa

Minggu, 26 April 2020, 17:15 WIB
Oleh Redaksi Net24Jam
Dokter yang waktu itu bekerja merawat pasien Pes.
Tiongkok, DelinewstvWuhan salah satu kota di Tiongkok (China) yang saat ini dikabarkan sudah terbebas dari virus corona (Covid-19).

Kendati demikian, Pemerintah China kali ini harus mengalihkan perhatiannya ke Provinsi Heilongjiang. Pasalnya, Heilongjiang warganya terancam kena Covid-19

Meski Pemerintah China mengatakan negaranya bebas Covid-19, tapi kenyataannya berbicara lain.

Heilongjiang kini diyakini menjadi hot spot baru penyebaran Covid-19, karena jumlah pasiennya meningkat dari hari ke hari di wilayah tersebut.

Wabah Pes
Wabah pes adalah salah satu dari tiga jenis wabah yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis . Satu hingga tujuh hari setelah terpapar bakteri, timbul gejala mirip flu. 

Gejala-gejala ini termasuk demam, sakit kepala , dan muntah. Kelenjar getah bening yang bengkak dan nyeri terjadi di area terdekat tempat bakteri masuk ke kulit. Kadang-kadang, kelenjar getah bening yang bengkak bisa pecah.

Wabah pes terutama di sebarkan oleh kutu yang terinfeksi dari hewan kecil. Hal ini juga dapat terjadi akibat paparan cairan tubuh dari hewan yang terinfeksi wabah mati. 

Dalam bentuk penyakit pes, bakteri masuk melalui kulit melalui gigitan kutu dan melakukan perjalanan melalui pembuluh limfatik ke kelenjar getah bening , menyebabkannya membengkak. 

Diagnosis dibuat dengan menemukan bakteri dalam darah, dahak, atau cairan dari kelenjar getah bening. 

Tercatat dalam sejarah bahwa provinsi Heilongjiang China ini ternyata pernah diserang pandemi yang sangat mematikan tersebut pada tahun 1911.

Wabah pes meletus di provinsi ini blokade, karantina, masker, pembatasan wilayah, juga dilakukan pemerintah China pada saat itu.

Namun, penyakit ini ternyata jauh lebih mematikan dari yang tercatat di China, karena pada tahun itu pandemi pes ini merenggut bekisar 60 ribu lebih nyawa orang Tiongkok.

Setelah wabah itu terkendali, China mengadakan konferensi pers dengan ahli kesehatan dari Amerika Serikat, Jepang, Rusia, Inggris dan Prancis.

Pada musim sebelumnya tahun 1910 wabah ini diperkirakan sudah menewaskan 63.000 orang Tiongkok hingga tahun 1911.

Epidemi ini juga berhasil menarik perhatian dunia tentang skala wabah, yang menyebar di Kota Harbin, ibukota Heilongjiang, yang hari ini menjadi hot spot baru virus corona di China.

Wabah itu diyakini berasal dari bulu berang-berang, hewan pengerat yang hidup di padang rumput dan stepa di Mongolia dan Manchuria (Wilayah Heilongjiang saat ini).

Pedagang Eropa, Amerika dan Jepang membeli bulu, dan kulit berang-berang tanpa menyadari bahayanya saat itu.

Awalnya banyak yang tidak menyadarinya sampai sekelompok dokter Rusia di Manchuria, datang untuk melakukan penelitian.

Gejalanya mengkhawatirkan, ketika menginfeksi, pasien akan mengalami demam tinggi dan batuk darah, kemudian mereka meninggal.

Di Manchuria, orang mati banyak tergeletak di jalanan, kereta barang diubah menjadi ruang isolasi.

Dengan cara yang sama dengan Covid-19, kereta pada saat itu menjadi sarana penyebaran ketika orang dari Machuria pergi ke Harbin.

Wabah itu juga disertai pneumonia yang menyebar ke kota-kota dengan jalur kereta api utama seperti Beijing, Tianjing kemudian Wuhan.

Bahkan Shanghai yang jaraknya 3.000 km juga memiliki wabah pes.

Di daerah kumuh Harbin penyakit ini menyebar dengan cepat, setidaknya 5.272 kematian pada 8 Januari 1910, kemudian terus meningkat.

(Rid/Sum)

TerPopuler