Yuuk..Kita Simak Keunikan Budaya Bulan Ramadhan Di Indonesia

Sabtu, 25 April 2020, 22:38 WIB
Oleh Gugun Marpaung


Foto ilustrasi sholat

Jakarta, Delinewstv
- Di Indonesia memiliki jumlah umat Muslim yang besar, tak hanya itu dengan 17.000 pulau yang ada Indonesia memiliki budaya yang berbeda dengan satu sama yang lain. Bulan Ramadan menjadi momen yang tak terlupakan bagi masyarakat di Indonesia, karena dalam bulan suci ini menjadikan momen kumpul keluarga dan melakukan aktivitas yang seru.

Di bulan Ramadan kali ini terbilang berbeda, karena masyarakat di Indonesia diimbau untuk tidak mudik dan tetap berdiam dirumah masing-masing saja. Himbauan dari pemerintah adalah untuk pencegahan penyebaran virus COVID-19 di Indonesia.


Bagi followers yang dirumah nih.. aktivitas yang dapat kita lakukan yakni membaca, setidaknya kita bisa mendapat ilmu pengetahuan tentang budaya di negeri kita ini, apalagi mereka memiliki tradisi yang terbilang unik untuk bulan Ramadhan. Ada 5 jenis tradisi unik selama Bulan Ramadan yang ada di Indonesia, seperti (25/4/2020)


1.Meugang


Propinsi Aceh memiliki tradisi bernama Meugang dimana orang-orang akan memasak dan menikmati makanan berbahan daging sebagai pembuka Bulan Ramadhan. Sepertinya hal ini tidak dapat dilakukan selama pandemi ini, namun setelah pandemi ini selelasi, masyarakat pasti menyambut festival ini dengan senang hati.

Tradisi ini sudah ada sejak kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Saat itu sang Sultan membagikan daging kepada rakyat yang kurang mampu, Pada abad ke 16 dan 17, Aceh memang menjadi kesultanan Islam yang paling besar di daerah Asia Tenggara. Hingga saat ini warga Aceh masih memiliki tradisi Meugang dan berlangsung selama dua hari.

2. Nyorog


Bahwa di Jakarta ternyata juga memiliki tradisi lho... Tradisi itu bernama Nyorog. Tradisi ini merupakan acara kumpul-kumpul keluarga dan orang-orang terdekat. Biasanya orang-orang akan saling bertukar makanan atau hadiah.
Tradisi ini merupakan milik orang-orang Betawi dan dipercayai dapat membuat hubungan keluarga lebih erat. Bamun karena tahun ini kita dihadapkan dengan COVID-19 maka tak banyak orang yang bisa melakukan kunjungan keluarga, karena di rumah saja untuk keamanan bersama.

3. Dandangan


Wilayah Kudus juga demikian, mereka memiliki tradisi memukul bedug atau yang biasa disebut Dandangan. Tradisi ini dilakukan selama sepuluh hari sebelum hari pertama Bulan Ramadhan.

Tradisi Dandangan ini memiliki aktivitas seperti berkumpul di depan masjid untuk menyambut Ramadhan telah menjadi tradisi. Beberapa pedagang juga datang dan menjual makanan tradisional siap saji. Kegiatan seperti pasar berlangsung dari fajar hingga sekitar tengah hari. Orang-orang biasanya akan bergerak ke sisi timur jalan di depan masjid, dan kegiatan berlanjut, berlangsung dari sore hingga subuh keesokan harinya.

4. Ela-ela

Sejak berabad-abad di waktu malam hari selama bulan Ramadhan, wilayah Ternate menjadi hidup dengan tradisi Islam di mana orang-orang menyambut dan "menangkap" Lailatul Qadar. Tradisi ini disebut ela-ela.

Pemerintah lokal Ternate telah memasukkan Festival Ela-Ela ke dalam kalender acara di wilayah itu, jadi hari ini ritual untuk menyambut Lailatul Qadar biasanya dimulai dengan doa bersama di Kesultanan Ternate Kedaton. Ini, kemudian, diikuti oleh pembakaran obor, yang dalam bahasa Ternate disebut ela-ela, oleh perwakilan Kesultanan Ternate dan pemerintah kota Ternate. Tradisi ini juga diikuti dengan menggunakan sepuluh batang pisang yang merupakan simbol dari kemajuan kebudayaan dari rakyat, sastra lisan hingga adat istiadat.

5. Nyekar

Dikutip dari SEAsia.com, tradisi ini dilakukan sebelum Ramadhan untuk menghormati para leluhur, mereka akan berkunjung ke makam dengan menaburi bunga dan berdoa.

Tradisi Nyekar ini sangat populer di pulau Jawa, dalam tradisi Nyekar umat Muslim akab berdoa untuk beberapa hal, seperti kesehatan dan nasib baik untuk mereka dan keluarga. Di beberapa tempat lain di Jawa, umat Muslim akan mengunjungi makan keraton.

Di daerah pedesaan, orang Jawa juga membuat persembahan makanan untuk Allah dan leluhur mereka ketika mengunjungi makam kerabat untuk ritual yang disebut nyandran. 

Para perempuan akan menyeimbangkan keranjang makanan di kepala mereka, melakukan perjalanan ke kuburan dengan berjalan kaki untuk membuat persembahan mereka, seringkali harus berjalan beberapa kilometer. Orang-orang yang lebih kaya biasanya menawarkan kue-kue kecil dan buah-buahan, sedangkan yang kurang mampu akan menawarkan apa pun yang mereka bisa beli.

(Red/Lpt6.com)

TerPopuler