7 Juta Kehamilan Tak Terduga Dampak Covid-19

Rabu, 06 Mei 2020, 23:41 WIB
Oleh Redaksi Net24Jam
Ilustrasi wanita hamil

Jakarta, DelinewstvMerebaknya wabah virus corona (Covid-19) di beberapa negara dunia ternyata berdampak pada sistem kesehatan para kaum hawa.

Hal ini diprediksi pada beberapa bulan kedepan terjadi peningkatan jutaan perempuan yang tidak dapat mengakses pelayanan keluarga berencana, mengalami kehamilan yang tidak diinginkan dan lain sebagainya.

Menurut data penelitian yang dikeluarkan United Nations Population Fund (UNFPA), badan PBB di bidang kesehatan seksual dan reproduksi, mengungkapkan dampak Covid-19 dalam skala besar terhadap wanita.

Direktur Eksekutif UNFPA Dr. Natalia Kanem menerangkan, bahwa data baru ini secara global menunjukkan dampak Covid-19 yang dalam waktu dekat akan dialami oleh wanita dan anak perempuan.

"Pandemi ini akan memperparah ketidaksetaraan, jutaan wanita dan anak perempuan sekarang beresiko kehilangan kemampuan untuk merencanakan keluarga mereka, melindungi tubuh dan kesehatan mereka,” ujar Kanem dalam keterangan tertulis, Rabu (6/5/2020).

UNFPA juga menjelaskan Covid-19 akan mengganggu upaya untuk mengakhiri perkawinan anak, yang berpotensi bertambahnya angka perkawinan anak sekitar 13 juta pada periode 2020 hingga 2030, yang seharusnya dapat dihindari.

UNFPA menyebut kerja sama dengan pemerintah dan mitra kerja untuk memprioritaskan kebutuhan perempuan dan anak perempuan pada usia reproduksi.

Diperkirakan sebanyak 7 juta kehamilan tak terduga akan terjadi jika karantina wilayah ataupun lockdown berlangsung hingga 6 bulan dan adanya gangguan pelayanan kesehatan.

Pasalnya, untuk setiap rentang 3 bulan karantina wilayah, maka akan bertambah sekitar 2 juta perempuan yang tidak dapat menggunakan kontrasepsi modern.

Kerja sama juga diperlukan untuk merespon secara mendesak selama terjadinya keadaan darurat kesehatan masyarakat di tengah pandemi Corona.

Prioritasnya berfokus pada penguatan sistem kesehatan, pengadaan dan pengiriman pasokan penting untuk melindungi tenaga kesehatan, memastikan akses kesehatan seksual dan reproduksi, serta mempromosikan komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat. 

(Rid/Kom)

TerPopuler