Tiongkok - Amerika Serikat Terancam Perang Terbuka

Rabu, 06 Mei 2020, 00:14 WIB
Oleh Redaksi Net24Jam
Foto : Ilustrasi gejolak AS-Tiongkok.

Beijing, DelinewstvTiongkok sedang menghadapi gelombang sentimen anti-China yang meningkat di tengah merebaknya pandemi Covid-19. Gelombang anti-China yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) itu berpotensi membuat kedua negara tersebut terlibat perang senjata.

Hal ini adalah pernyataan dari sebuah laporan internal Tiongkok yang disajikan awal bulan lalu oleh Kementerian Keamanan Negara kepada para pemimpin Tiongkok, termasuk Presiden Xi Jinping.

"Beijing menghadapi gelombang sentimen anti-China yang dipimpin oleh Amerika Serikat setelah pandemi dan perlu dipersiapkan dalam skenario terburuk untuk konfrontasi bersenjata antara kedua kekuatan global," tulis Reuters, Selasa (5/5/2020).

Berdasarkan media tersebut, laporan itu disusun oleh Institut Hubungan Internasional Kontemporer China (CICIR). 

Lembaga ini adalah think tank berpengaruh, yang sampai tahun 1980 berada di dalam Kementerian Keamanan Negara, dan memberi saran kepada pemerintah tentang kebijakan luar negeri dan keamanan.

Media berbasis di Inggris itu menegaskan, bahwa mereka tidak dapat menentukan sampai sejauh mana penilaian gamblang yang dijelaskan dalam laporan ini mencerminkan posisi yang dipegang oleh para pemimpin Tiongkok. Termasuk, apakah itu akan mempengaruhi kebijakan.

"Tetapi penyajian laporan itu menunjukkan betapa seriusnya Beijing menghadapi ancaman serangan balik yang dapat mengancam apa yang dilihat Tiongkok sebagai investasi strategisnya di luar negeri dan pandangannya terhadap keamanannya," tulis Reuters.

Laporan itu juga memaparkan bahwa Tiongkok percaya Amerika Serikat ingin menahan negeri panda dari kebangkitan. Di mana Tiongkok telah menjadi lebih asertif secara global seiring dengan pertumbuhan ekonominya.

"Makalah itu menyimpulkan bahwa Washington memandang Tiongkok sebagai ancaman ekonomi dan keamanan nasional dan tantangan bagi demokrasi Barat," kata sumber-sumber tersebut

"Laporan itu juga mengatakan Amerika Serikat bermaksud melemahkan Partai Komunis yang berkuasa dengan merusak kepercayaan publik."

Kendati demikian, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menolak berkomentar soal ini. Hal senada juga dilakukan CICIR.

Sementara itu, hubungan AS-Tiongkok memang sudah tidak harmonis sejak lama. Kedua negara kerap terlibat perselisihan.

Apalagi saat Amerika Serikat ada di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Di 2018, keduanya terlibat perang dagang berkepanjangan dan saling menerapkan tarif senilai ratusan miliar dolar.

Mereka juga terjebak perselisihan akibat Undang-undang Hak Asasi Manusia Hongkong dan Taiwan. 

Kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu juga terlibat cekcok di wilayah yang diperebutkan di Laut Cina Selatan.

Terbaru, kedua negara berselisih soal asal-usul virus corona yang sudah menginfeksi 3,6 juta lebih orang di muka bumi. AS menyampaikan kecurigaannya mengenai asal dari Covid-19 dengan menyebut wabah itu buatan manusia dari sebuah laboratorium virologi di Wuhan.

Wuhan sendiri adalah lokasi pertama kali Covid-19 menyebar, di China bagian tengah. Pemerintah Xi Jinping sudah berulang kali membantah tuduhan tersebut.

"Ya, ya saya punya," kata Trump pada pekan lalu ketika ditanya apakah dia telah melihat bukti yang dapat sangat meyakinkannya bahwa virus tersebut berasal dari Institut Virologi Wuhan, sebagaimana dilaporkan France 24.

Namun demikian, Trump menolak untuk membeberkan detailnya. 

"Saya tidak bisa memberi tahu anda itu. Saya tidak diizinkan untuk memberitahu anda tentang itu."

Menanggapi rumitnya hubungan kedua negara ini, tidak hanya laporan internal Tiongkok yang meyakini kedua negara bisa terlibat perang di masa depan. Seorang ahli Turki bernama Mesut Hakki Casin juga memiliki pendapat serupa.

Casin berpendapat bahwa cekcok antara kedua negara bisa berubah menjadi perang terbuka yang panas. Bahkan, dengan mempertimbangkan semua aspek yang dimiliki kedua negara, termasuk kekuatan militer dan pertahanan mereka, profesor hukum di Universitas Yeditepe Istanbul itu mengatakan perang akan lebih besar dari Korea Selatan dan Utara.

"Jadi Perang Dunia Ketiga dimulai antara kekuatan besar, dan duel abad ke-21 akan menjadi duel terakhir antara Washington dan Beijing," katanya memperkirakan kepada Anadolu Agency.

"Saya percaya konflik di sini akan melampaui perang Korea Selatan dan Utara," ungkapnya.

(Red)

TerPopuler