Keluarga Korban Pengeroyokan di Sumut Minta Tegakkan Keadilan

Sabtu, 13 Juni 2020, 01:24 WIB
Oleh Redaksi 77

Medan, DelinewstvPuluhan massa dan keluarga korban penganiayaan terlihat kecewa karena pelaku hanya dijerat pasal 352. Selain itu persidangan yang digelar secara tipiring dinilai sangat menguntungkan pihak terdakwa Fauzal Asraf.

Penasehat hukum korban, Okto Gabriel M Simangunsong mengatakan, pasal 352 tersebut perbuatan penganiayaan ringan, sedangkan kliennya mengalami luka berat dan dilakukan secara bersama-sama.

"Kami berharap terdakwa dikenakan pasal 170 ayat (1) KUHPidana yakni barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan," ucapnya saat mendampingi M Zakaruddin orang tua korban Ferdi dan pengurus Projo Sumatera Utara (Sumut) Bima Sibarani kepada wartawan, Jumat (12/6/2020), seusai persidangan.

Selain itu, dia menjelaskan saat gelar perkara, terdakwa dikenakan pasal 170 ayat (1) Jo 351 ayat (1) KUHPidana. Namun setelah di persidangan terdakwa dikenakan pasal 352 KUHpidana yang jelas-jelas pasal tersebut tidak ada di dalam berkas dakwaan.

Sementara ayah korban meminta agar keadilan ditegakkan, sudah jelas kasus pengeroyokan dan penganiayaan yang dialami putra saya.

"Saat dipersidangan kenapa pelaku justru dijerat pasal penganiayaan ringan,"ujar M Zakaruddin.

Zakarudin sangat menyesalkan kenapa pihak penyidik Polrestabes Medan menjerat pelaku dengan pasal tersebut. 

"Muka anakku lemban, kalung emasnya juga hilang dan selain itu juga harus mendapat perawatan medis akibat pemukulan dan pengeroyokan,"ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Pengurus Projo Sumut, Bima Sibarani meminta majelis hakim bisa adil dalam memutus perkara penganiayaan itu. 

"Saat mengetahui kejadian yang menimpa keluarga Pak Zakarudin dimana anaknya Ferdi menjadi korban pemukulan dan pengeroyokan, pihaknya siap melakukan pengawalan demi tegaknya hukum,"ucap Bima.

Bima meminta penegak hukum benar-benar menegakkan keadilan seadil-adilnya seperti arahan Presiden Jokowi kepada penegak hukum dan jangan mempermainkan.

Terpisah dalam persidangan yang dipimpin Hakim Tunggal Morgan yang dihadiri penyidik Polrestabes Medan dan penasihat hukum terdakwa, saksi Ferdi menerangkan bahwa dirinya baru saja selesai duduk dengan teman dan sepupunya di Cafe Holi Wing Jalan A Rifai pada 12 Oktober 2019 lalu.

Ketika hendak pulang, Ia dan Aulia melewati lorong tanpa sengaja menyenggol perempuan. 

"Kami saat itu minta maaf langsung kepada perempuan dan teman prianya. Namun tiba-tiba saja orang yang  mendorong dan memukul," tuturnya sembari menunjuk terdakwa sebagai pelaku dibantu oleh beberapa orang pria.

Menjawab pertanyaan Hakim Tunggal Morgan, Ferdi menyampaikan bahwa kondisi lorong yang sempit.

Mengenai pemukulan itu pun dibenarkan oleh Novaria, ia melihat langsung bahwa sepupunya dipukuli oleh terdakwa dan beberapa temannya. 

"Saat pembayaran makan dan minum di kasir, melihat ada ramai-ramai dari kejauhan. Ketika curiga itu sepupunya langsung memeluk agar tak dipukuli lagi,"ujarnya. Dan itupun diamini oleh Syawaluddin dan Aulia yang juga melihat pemukulan itu dilakukan lebih dari satu orang.

Sementara itu dalam keterangan terdakwa mengelak kalau pemukulan terhadap korban melibatkan orang lain.

Disebutkan hanya kesalahpahaman saja dan ia pun siap melakukan perdamaian. Ia berdalih hanya mendorong saja karena saat ia juga pulang dari tempat cafe tersebut dan mendengar ada menyengol mobil yang dikemudikannya. Namun keterangan itu langsung disoraki oleh para pengunjung sidang.

Usai mendengarkan keterangan saksi dan terdakwa, maka Hakim Tunggal Morgan menunda persidangan hingga Senin (15/6/2020) mendatang.

(Rid)

TerPopuler