Terdakwa Dihukum Seumur Hidup, Dedi Alamsyah : Membantu Bukan Turut Serta

Sabtu, 20 Juni 2020, 11:19 WIB
Oleh Redaksi 77
Dedi Alamsyah, SH.


Medan, Delinewstv
Sidang perkara pembunuhan hakim di Pengadilan Negeri Medan hari ini beragenda mendengarkan pembelaan para terdakwa yang dibacakan para penasihat hukum dan terdakwa sendiri. Pada persidangan pekan lalu, tim Jaksa Penuntut Umum yang diketuai Parada Situmorang menuntut ketiga terdakwa masing-masing hukuman pidana seumur hidup.

Jaksa menilai ketiganya telah melakukan pembunuhan berencana berdasarkan keterangan para saksi, fakta persidangan dan barang bukti. Perbuatan para terdakwa dianggap keji dan meninggalkan kepedihan yang mendalam kepada keluarga korban. Pasal yang dikenakan untuk ketiga terdakwa adalah Pasal 
340 KUHPidana juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana subsider Pasal 338 KUHPidana juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Tidak ada alasan untuk memaafkan perbuatan para terdakwa dan tidak ada perdamaian yang dilakukan para terdakwa kepada keluarga korban sehingga tidak ada yang meringankan dari perbuatan para terdakwa," kata Parada di hadapan majelis hakim yang diketuai Erintuah Damanik, Rabu (17/6/2020) lalu.

Pasca persidangan di Pengadilan Negeri Medan, Dedi Alamsyah, SH., selaku kuasa hukum terdakwa M Reza Fahlevi, dirinya menyampaikan, dalam tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) menerapkan pasal 340 KUHPidana Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 dan 2.

"Pada Pledoi kami membantah dan serta keberatan tuntutan JPU tersebut. Sebab terdakwa M Reza Fahlevi seharusnya dikenakan pasal 340 KUHPidana Jo Pasal 56 ayat 1e dan 2e dan Pasal 57," jelas Dedi pada Delinewstv, Jumat (19/6/2020) kemarin.

Menurutnya, untuk menentukan hukuman hanya diperhatikan perbuatan dengan sengaja dimudahkan atau dibantu oleh pembantu itu serta akibatnya.

"Nah, sekarang seharusnya JPU itu berpedoman pada Jo pasal 56 dan 57 KUHPidana bukan pada Jo Pasal 55 KUHPidana," kata Dedi.

Oleh karena itu, lanjut Dedi, seharusnya konstruksi hukum inilah yang harus dibangun oleh JPU yakni, Pasal 56 dan Pasal 57 KUHPidana.

"Kenapa? Karena mengacu pada pasal tersebut yakni "Membantu Bukan Turut Serta", artinya Terdakwa M Reza Fahlevi dalam hal melakukan pembunuhan berencana terhadap korban Jamaluddin, Reza Fahlevi diminta untuk ikut membantu melakukan pembunuhan berencana," lanjutnya.

Dia menyebut, maka dari itu, tuntutan JPU tersebut, Dedi mengaku membantah dan  sangat keberatan menerapkan pada Jo Pasal 55 KUHPidana.

"Kesimpulannya adalah bila Terdakwa dalam tuntutan JPU hukuman seumur  hidup, maka kita harus mengacu kepada pasal 57 ayat 1 dan 2," imbuh Dedi sembari mengatakan JPU bersikeras menetapkan Jo Pasal 55 KUHPidana terhadap terdakwa M Reza Fahlevi, akan menjadi Preseden buruk bagi peradilan di Indonesia.

(Ridwan)

TerPopuler