PT.Tolan Tiga Indonesia (Sipef ) Perlabian, Usir dan Larang Wartawan Meliput.

Minggu, 19 Juli 2020, 10:48 WIB
Oleh Amsari

Labusel, DeliNewstv - Sudah berlangsung enam hari mulai hari Senin (13/7/2020) sampai  Sabtu (18/7/2020)  warga desa meranti dusun menanti Kecamatan Bilah Hulu Kabupaten labuhanbatu menduduki lahan yang mereka klaim adalah lahan nenek moyang atau orangtua mereka  (lahan mereka )yang telah di kuasai sejak tahun enam puluan  sebelum PT.Tolan Tiga Indonesia (Sipef) kebun Perlabian ada di sana.

Saat di temui bendahara kelompok tani bersatu ,( KTB )Jumiran  bersama Suroto  menyampaikan  dusun Menanti  desa Meranti adalah pemekaran dari desa Gunung Selamat  Kecamatan  Bilah Hulu Kabupaten  Labuhanbatu.

 Lanjut Jumangin,hari ini Sabtu (18/7/2020), kami semua warga dan anggota yang bergabung dalam kelompok tani bersatu (KTA)sudah membubarkan diri dari lahan yang kami  duduki dan klaim selama enam hari ini,karena ketidak adaan bahan logistik juga lainnya.

Kepada media Jumangin menyampaikan lebih lanjut, bahwa dari Luas 1236 hektar lahan petani desa meranti  telah  memiliki legalitas surat yang syah seluas  716 hektar,dari era tujuh puluan lahan yang saat ini di kuasai oleh PT.Tolan Tiga Indonesia (Sipef ) adalah lahan  warga petani desa Meranti dusun Menanti yang sekarang telah tergabung dalam wadah Kelompok Tani Bersatu  (KTB )cikal bakalnya dulu menguasai lahan adalah warga desa Gunung Selamat ( Meranti -sekarang ).

Masih oleh Bendahara KTB (kelompok tani bersatu ) Jumangin jumlah  anggota kelompok tani bersatu ada sebanyak 850 orang  dan sampai saat ini tetap berharap dan mempertahankan hak kami yang sudah dua puluh tahun lahan kami ini kami tuntut tapi tidak ada jawaban atau hasil yang kami dapatkan.

Namun  tetap kami tetap optimis dan tuntut terus akan terus kami tuntut sampai darah penghabisan,Hanya kami berharao yang terakhir kepada bapak presiden Indonesia Bapak Joko Widodo agar lahan yang kami (warga )  nyatakan milik kami dengan keabsahan kepemilikan  yang kami miliki,di kembalikan segera pada kami hanya itu saja bapak presiden.

Sekarang lebih anehnya lagi pihak perusahaan lahan.milik kami (objek kasus )  di isolasi di beko  (di gali ) oleh PT.Tolan Tiga Indonesia (Sipef ) lahan milik masyarakat  serta lahan kami tersebut di buat perusahaan  dinding seng supaya masyarakat tidak bisa masuk dan kuasai lahan tersebut dengan cara semau dan sesuka -suka mereka.

Dimana kejelasan hukum di negara ini...?????Apa kami belum merdeka...??Ironisnya kami lihat wartawan(Jurnalis ) saja yang saat meliput,perusahaan  PT.Tolan Tiga Indonesia (Sipef ) mengusir dan tidak memperbolehkan meliput,jika media  (wartawan )memaksakan masuk meliput, security perusahaan mengusir dan memaksa keluar,jadi dimana kebebasan berbangsa dan bernegara serta demokrasi di Indonesia ini ...?? Coba bapak bayangkan awak media saja mereka usir dan tidak di perbolehkan masuk.

 Jumangin lebih menjelaskan,perwakilan warga yang ikut menguasai (duduki )lahan selama enam hari ini sebanyak  450 orang selama enam hari mulai senin (13/7/2020) sampai  Sabtu (18/7/2020) ,oleh Suroto (warga )
Harapan kami dari warga  KTB,sudah dua puluh dua tahun perjuangan ini,dari tahun 1971 lahan tersebut  di rampas dan di kuasai perusahaan lahan tersebut.

Harapan kami kepada pemerintah  agar  lahan masyarakat  desa meranti di kembalikan karena itu milik kami jangan mengkriminilasasi  dan berlaku anarkis pada masyarakat ini negara hukum demokrasi bukan cara begini kepada warga,Perwakilan warga yang merasa prihatin hendak mendistribusikan bahan pangan bagi warga yang kurung perusahaan selama dua hari tanpa makan dan minum koq di larang,akhirnya agar logistik tidak dapat masuk.

Menurut keterangan Kepengurusan KTB Jumangin adanya anggota warga desa meranti Nanda Gautama Putra yang ingin mendistribusikan bahan makanan ke lokasi  dimana warga di kurung perusahaan karena sulitnya masuk untuk mengirim bahan logistik tersebut akhirnya Nanda  membuka cara spontan  membuka pintu besi tersebut agar bisa masuk dan dapat mengirimkan bahan makanan masyarakat yang sudah tidak makan selama dua hari,saya lihat (Nanda ) saat itu dengan rasa kasian membawa makanan dan minuman kepada warga setempat.

Ternyata niat baik saya tersebut  oleh perusahaan saya di tuding pihak perusahaan melakukan pengerusakan pintu besi milik perusahaan,padahal saya sudah minta tolong,atau di kasikan dulu makanan ini pada warga,malah jawaban petugas keamanan tidak pantas,itulah awalnya saya spontan buka paksa pintu tersebut,padahal saya sudah minta tolong,informsi di teruma Sampai hari ini minggu (19/7/2020) Nanda masih di amankan di polres labuhanbatu dengan dalil  tudingan pengerusakan pengerusakan pintu.

 Info yang di terima dari  Jumangin,  Jumat (17/'7/2020) Nanda di jemput dari desa meranti sesuai pengaduan pihak perusahaan PT. Tolan Tiga Indonesia ( Sifef ) laporan polisibpengerusakan.

Pada kasus ini sangat banyak kejanggalan dan sepertinya banyak permainan,mulai dari penggelapab pajak,CSR, dan lainya ini tidak pernah di proses berjalan mulus apalagi setelah perpanjangan HGU 2436 hektar dan menjadi 3672  Hektar,ada apa dengan pola seperti ini...?? berapa banyak negara di rugikan PT.Tolan Tiga Indonesia dengan penggelapan pajak dan hal lainya,ini bisa luput dari jerat hukum,harapan saya agar ini dapat di bongkar agar terkuak semuanya.

Hal ini akan kita angkat menjadi issu nasional akibat dugaan kesengajaan para pejabat pengemplangan pajak serta terkait yang menyangkut legalitas kepemilkan dan penguasaan lahan oleh pihak perusahaan dengan legalitas HGU fiftif ujar Jumangin mengakhiri.

Di lain tempat hari yang sama pimpian perusahaan PT.Tolan Tiga Indonesia Posma Damanik tidak berkenan untuk di wawancarai dan wartawan tidak di perkenankan masuk, ujar security L. Manullang kepada awak media.
Semua pintu masuk perusahaan di isolasi dan tidak dapat masuk.


Reporter : Sulaiman malaka.

TerPopuler