Virus Marburg Rawan Epidemi dan Mematikan, Ini Gejalanya

Rousettus aegyptiacus, kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae, dianggap sebagai inang alami virus Marburg. Virus ini ditularkan ke manusia dari kelelawar buah dan menyebar di antara manusia melalui penularan dari manusia ke manusia.

“Saat ini, tidak ada terapi atau obat khusus yang disetujui untuk penyakit virus Marburg,” ujar WHO.

Dalam perawatanya, pemantauan ketat tanda-tanda vital, resusitasi cairan, pemantauan elektrolit dan asam basa bersama dengan pengelolaan koinfeksi serta disfungsi organ, merupakan komponen penting dari perawatan dan mengoptimalkan hasil juga kelangsungan hidup pasien.

Virus Marburg satu keluarga dengan Ebola. Keduanya anggota keluarga Filoviridae (filovirus). Meskipun disebabkan oleh virus yang berbeda, kedua penyakit ini secara klinis serupa.

“Penyakit virus Marburg dan Ebola jarang terjadi tapi memiliki kapasitas untuk menyebabkan wabah dengan tingkat kematian yang tinggi,” ungkap WHO.

Gejala penyakit virus Marburg

WHO mengatakan, masa inkubasi atau interval dari infeksi hingga timbulnya gejala bervariasi, mulai 2 sampai 21 hari.

Gejala penyakit yang disebabkan oleh virus Marburg muncul secara tiba-tiba, dengan demam tinggi, sakit kepala parah, dan malaise parah. Nyeri otot dan nyeri adalah ciri umum.

Diare yang parah, sakit perut dan kram, mual dan muntah bisa dimulai pada hari ketiga. Diare bisa bertahan selama seminggu.

“Pasien pada fase ini digambarkan “seperti hantu”, mata cekung, wajah tanpa ekspresi, dan kelesuan yang ekstrem,” ungkap WHO.

Dalam wabah di Eropa tahun 1967, ruam yang tidak gatal adalah ciri yang dicatat pada kebanyakan pasien antara 2 dan 7 hari setelah timbulnya gejala.

Banyak pasien mengalami manifestasi perdarahan yang parah antara 5 dan 7 hari, dan kasus yang fatal biasanya memiliki beberapa bentuk perdarahan, seringkali dari beberapa area.

Darah segar pada muntahan dan feses seringkali disertai dengan pendarahan dari hidung, gusi, dan vagina. Pendarahan spontan di tempat tusukan vena (di mana akses intravena diperoleh untuk memberikan cairan atau mengambil sampel darah) bisa sangat merepotkan.

Selama fase penyakit yang parah, pasien mengalami demam tinggi. Keterlibatan sistem saraf pusat bisa mengakibatkan kebingungan, lekas marah, dan agresi.

Orkitis atau peradangan pada salah satu atau kedua testis kadang-kadang dilaporkan pada fase akhir penyakit atau di hari ke-15 setelah gejala pertama muncul.

“Dalam kasus yang fatal, kematian paling sering terjadi antara 8 dan 9 hari setelah timbulnya gejala, biasanya didahului dengan kehilangan darah yang parah dan syok,” kata WHO.

(DNN/Kontan)